oleh

Kekerasan Perempuan dan Anak di Maluku Meningkat, Freni Lutruntuhluy Minta Pemda Beri Atensi Penuh

MALUKU – Tokoh muda Maluku, Freni Lutruntuhluy meminta Pemerintah Daerah Maluku agar memberikan atensi penuh atas kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Pria yang lama konsen pada isu perempuan dan anak itu mengaku prihatin terkait tingginya angka kasus kekerasan di Maluku sejak setahun terakhir.

“Kalau mencermati data yang ada, eskalasi kekerasan terhadap anak maupun perempuan meningkat dibanding periode sebelumnya,” kata Freni kepada media ini, Rabu (9/2).

Pernyataan pemimpin PT Media Timor Global itu bukan tanpa dasar. Data mengenai tingginya kasus kekerasan perempuan dan anak memang meninggi semenjak tahun 2021.

Sebagaimana dilaporkan Lingkar Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LAPPAN), sebuah organisasi yang sosial berbasis di Maluku, menyebut sepanjang tahun 2021, terdapat kasus kekerasan terhadap perempuan sebanyak 197 kasus.

“Adapun rinciannya, sebanyak 25 kasus tergolong kekerasan fisik, perkosan 45 kasus, cabul sekitar 30 kasus, percobaan perkosaan dua kasus, traficing 1 kasus dan ciber 2 kasus.

Freni lebih lanjut mengatakan, sebaran kasus kekerasan perempuan dan anak di 11 Kabupaten /Kota di Maluku, memang bervariasi.

“Sebut saja Kota Ambon yang menjadi daerah dengan angka kasus tertinggi, diikuti oleh Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku Tengah dan Kabupaten Buru dan Buru Selatan,” ujarnya.

Bertolak pada kondisi ini, Freni yang juga Koordinator Jaringan Media Peduli Anak (JMPA) meminta Gubernur Maluku dan seluruh Wali Kota/Wakil Wali Kota serta Bupati/Wakil Bupati agar jangan menganggap sepele masalah ini.

“Ini masalah serius. Perempuan dan anak adalah subjek dan masa depan pembangunan. Tanpa peran perempuan, pembangunan akan berjalan pincang. Sedang, tanpa menghirau hak dan kesehatan anak, maka Indonesia di masa depan adalah mimpi buruk yang bakal mengubur semua visi besar republik ini,” paparnya.

Untuk itu, ia mengharapkan Pemda Maluku agar mengasah kepekaaan atas permasalahan krusial ini. Jangan sampai, kata dia, kasus kekerasan perempuan dan anak di tahun ini meningkat lagi dari tahun sebelumnya.

“Jika tahun ini tren kenaikan kasusnya masih sama, maka bersiap-siaplah,” pungkasnya. (HS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.