oleh

Dirjen Imigrasi Dinilai “Main Mata” di Balik Kasus Roshni Lachiram

JAKARTA – Direktorat Jenderal (Dirjen) Imigrasi Indonesia dinilai sedang bermain mata di balik kasus yang dialami seorang warga asal Panama bernama Roshni Lachiram Parvani Sadhwani.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Dewan Pembina lembaga Hukum dan HAM PADMA (Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian) Indonesia, Gabriel Goa melalui Konferensi Pers yang digelar di halaman Gedung Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) pada Senin (20/12).

Gabriel dalam pernyataannya menilai, perlakuan yang diterima Roshni selaku korban tindakan kekerasan yang dilakukan suaminya, Prithvi Suresh Vaswani sangat diskriminatif.

Pasalnya menurut Gabriel, Roshni sengaja dipersulit dalam mengurus (memperpanjang) Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP) oleh pihak Imigrasi.

“Jadi, kami melihat pihak Imigrasi kompak main mata dengan Prithvi dan kuasa hukumnya untuk mempersulit ibu Roshni dalam mengurus perpanjangan KITAP-nya yang sudah habis masa berlakunya sejak beberapa waktu lalu,” katanya kepada awak media, Senin (20/12).

Aroma adanya permainan belakang layar antara pihak Imigrasi dengan pihak Prithvi juga menurut Gabriel terlihat saat petugas Imigrasi beberapa kali memburu Roshni dengan alasan telah habis izin tinggal di Indonesia.

“Padahal, ibu Roshni ini tidak atau bukan dengan unsur kesengajaan membiarkan KITAP-nya habis masa berlakunya. Sebab, pemegang sponsor yang dalam hal ini suami Roshni (Prithvi) sengaja menyembunyikan dokumen KITAP Roshni dengan alasan dokumen-dokumen tersebut telah hilang dan tidak tahu kemana,” jelasnya.

Gabriel lebih lanjut menyebut, Roshni bersama pendamping hukumnya, Elza Syarief Law Office berusaha membujuk Prithvi agar menyerahkan dokumen KITAP milik Roshni agar segera diperpanjang.

Namun, upaya yang dilakukan Roshni didampingi kuasa hukumnya selalu menuai gagal. Prithvi dinilai selalu beralasan untuk tidak menyerahkan dokumen terkait.

“Lantas, bagaimana mungkin KITAP ibu Roshni dapat diperpanjang sedangkan dokumen KITAP-nya saja tidak diketahui alias tidak diserahkan oleh suaminya. Dengan begitu, apakah pihak Imigrasi harus menyalahkan ibu Roshni, sehingga sampai mengejar-ngejarnya?” tukas Gabriel.

Siasat buruk itu kembali terlihat, kata Gabriel, setelah muncul pengakuan daro Roshni yang mengaku mendapatkan bujukan atau arahan dari petugas Imigrasi yang sempat berkontak dengannya.

Dalam keterangan yang disampaikan Roshni, ujar Gabriel, dirinya ditawari pilihan, jika ingin memperpanjang KITAP, maka kedua anaknya, Akash Prithvi Vaswani Parvani (11) dan Prisha Prithvi Vaswani (3) harus diserahkan ke suaminya.

“Jadi, mereka menawarkan opsi, bahwa perpanjangan KITAP ibu Roshni dapat dilakukan asalkan dirinya bersedia menyerahkan kedua anaknya yang saat ini sedang bersamanya ke tangan Prithvi. Namun, tawaran itu ditolak mentah-mentah, karena ibu Roshni tidak ingin kedua anak kesayangannya itu diasuh sang ayah yang notabene seorang pelaku kekerasan,” paparnya.

Atas kejadian itu, Roshni menilai Prithvi telah memengaruhi pihak Imigrasi untuk melakukan tawar-menawar dengan dirinya soal hak asuh anak yang sampai sekarang masih terus diincar Prithvi.

“Muncul dugaan kuat, Prithvi yang di-backing oleh pengacara Amir Syamsuddin yang kita tahu bersama mantan Menkumham terlibat dalam perkara ini. Untuk itu, kami mendesak Pak Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar membantu dalam permasalahan ini,” tandasnya. (Timred)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.