oleh

Kasus WNA Panama Akhirnya Jadi Perhatian Serius

JAKARTA – Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) kembali digelar untuk yang ke sekian kali dalam menyoal kasus yang menimpa seorang warga negara asal Panama, Roshni Lachiram Parvani Sadhwani.

Kegiatan yang digelar Jaringan Media Peduli Anak Indonesia (JMPA) bekerja sama dengan Lembaga Peduli Anak Indonesia (LPAI) dan mendapat dukungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) tersebut mengundang Kelompok Cipayung dan rekan-rekan media peduli perempuan dan anak untuk menyoal kasus yang sedang dialami Roshni.

Domi Dese, wartawan senior yang hadir di diskusi itu mengatakan isu kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan isu paling problematik yang dari waktu ke waktu selalu menyita perhatian publik.

“Di negara ini, bukan menjadi rahasia lagi bahwa kasus seputar kekerasan terhadap perempuan dan anak sudah di luar batas kewajaran. Hampir setiap hari kekerasan terjadi pada perempuan dan anak. Sayangnya, masih banyak di antara kita yang belum begitu peduli atas permasalahan krusial ini,” ungkap Domi dalam diskusi terarah yang berlangsung di Wahid Hasyim Cipta Hotel, Jakarta, Minggu (12/12).

Lebih lanjut, pihaknya mengaku sangat prihatin terutama kian maraknya kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap perempuan dan anak yang belakngan viral di berbagai media, dan yang tak kalah penting lagi kekerasan yang menimpa Roshni yang telah lama luput dari perhatian publik.

“Tentu kita tidak mengesampingkan kasus-kasus serupa lainnya yang belakangan marak, namun patut jadi perhatian kita bersama atas kasus yang menerpa saudari Roshni yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar mengenai proses pengadilan di negeri ini,” ujarnya.

Dirinya menyebut bukan Roshni sebagai alasan untuk menyoroti kasus tersebut, sebab kata dia, siapapun dia, mau dari mana asalnya, yang namanya korban kekerasan tidak bisa dianulir dengan alasan apapun.

“Kita ingin siapapun, entah dari manapun asalnya, darinya melekat hak dan martabat sebagai seorang manusia, perempuan dan ibu yang harus dihargai, harkat dan martabatny sebagai seorang manusia. Untuk itu, jangan ada diskriminasi hukum terhadap dirinya,” tegas Domi.

Sementara, Wasekjen DPP Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Fachri Hidayat menyebut kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia secara tren terus meningkat dari waktu ke waktu.

Untuk itu, dirinya berharap permasalahan ini menjadi konsen bersama. Semua harus menaruh perhatian dan kepedulian atas permasalahan ini. Dan yang lebih penting lagi, bagaimana mencegah hal ini di bagian hulunya.

“Saya ingin melihat masalah ini sebagai masalah di bagian hulu. Sementara fokus kita lebih pada penanganan di bagian hilir, duduk masalah sebenarnya justru berada di hulu. Untuk itu, pendidikan sejak dini harus diperkuat melalui kurikulum dan pengajaran yang sesuai dengan pencegahan terharap kekerasan anak itu sendiri,” ucapnya.

Dirinya bersama rekan-rekan dari Kelompok Cipayung akan terus mengawal masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak ini sehingga diharapkan menjadi perhatian bersama.

“Kami akan terus mengawal hingga masalah ini benar-benar menjadi perhatian kita semua. Dan yang terpenting lagi adalah gerakan untuk menyudahi masalah ini,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.